Alhamdulillah memasuki hari kedua bulan ramadhan tahun ini, saya berniat untuk menghidangkan masakan yang lebih sehat. Sama seperti yang saya niatkan sebelumnya, demi kehidupan yang lebih baik, lebih produktif serta lebih bermanfaat di masa yang akan datang. Tentunya ramadhan ini dijadikan momen yang pas untuk memulai dan menguatkan kembali bagaimana menjalankan pola hidup dan makan yang sehat. Ramadhan ini pula dijadikan waktu belajar kakak untuk berpuasa dan menahan diri untuk tidak mengkonsumsi makanan yang memicu gejala asmanya. Sebenarnya ini lebih kepada tantangan saya dalam menghidangkan makanan untuk keluarga. Saya sendiri masih belajar membiasakan diri untuk mengurangi konsumsi gula refinasi, tepung terigu dan minyak khususnya gorengan. Meskipun belum bisa 100% meninggalkannya. Karena kebiasaan itu perlu konsistensi dan juga kesabaran. Sabar dalam menahan godaan untuk jajan di luar, dan lain-lain. Alhamdulillah, untuk hari pertama tidak ada gorengan ataupun sirup manis ketika berbuka. Entah untuk hari selanjutnya. Meski saya bertekad kuat untuk memulai hidup sehat, nyatanya memang tidak mudah terutama bila kita masih berada di lingkungan atau orang terdekat yang mungkin belum benar-benar 'sadar' pada kesehatannya sendiri. Suami saya misalnya, yang memang sudah suka dan hobi makan mie instan. Meskipun sudah saya ingatkan untuk mengurangi, karena gejala alergi sudah mulai kelihatan dan sering muncul setiap kali mengkonsumi makanan olahan itu. Atau gorengan serta minuman instan yang manis. Bukan pertama kalinya saya mengingatkan suami, tak jarang makanan yang saya hidangkan enggan ia makan. Tidak nafsu makan katanya, atau ia makan hanya untuk sekedar mengisi kekosongan perutnya, lalu ia lanjutkan dengan minta dibuatkan mie instan. Saya akui, saya masih banyak belajar. Tapi bagi saya sesulit-sulitnya menyajikan hidangan sehat, lebih sulit lagi ketika saya mendapati keluarga sendiri yang menolak untuk menyantapnya. Sangat jauh dan bertolak belakang dengan saya, yang bisa makan walau hanya dengan sambal dan lalapan saja. Maklum, saya sunda dan suami jawa. Tidak mudah memang untuk menyatukan kebiasaan baru yang sudah dibangun sejak lama. Begitupun dengan saya, saya suka roti, burger atau pizza tapi bukan pecintanya. Sedangkan suami, sangat menyukai kudapan itu. Disinilah letak tantangannya. Bagaimana saya bisa menyajikan hidangan sehat namun bisa diterima dan disantap oleh keluarga. Saya lebih suka menyantap dan memasak masakan nusantara yang khas dan kaya dengan bumbu-bumbu rempahnya. Lagi-lagi suami kurang suka, dia malah ngomel jika saya menghidangkan masakan itu, apalagi saat dimana ia pulang kerja. Sudah pasti suami lebih memilih dibuatkan mie instan kesukaannya. Atau membuat hidangan ala-ala barat yang serba sehat, plant base yang bumbunya minimalis seperti lada, taburan bumbu baput, garam, dan minyak zaitun? Manalah dia suka..
Terkadang kebiasaan itu membuat saya lelah dan ingin menyerah, sekarang saya tidak memasak untuk satu orang saja. Dulu saya berusaha agar suami bisa makan makanan yang lebih sehat, bernutrisi dan langsung saya buatkan sendiri. Namun kebiasaan itu mematahkan semangat saya, saat ini tujuan masak saya hanya untuk diri saya sendiri. Karena saya suka memasak, suka bermain-main di dapur. Dan yang kedua, tentunya untuk anak-anak saya. Ada nasihat yang bagus ketika saya mengikuti kulzoom beberapa bulan lalu di kelas baking. Kurang lebih untuk berusaha membahagiakan diri sendiri sebelum orang lain. Karena bila orang lain yang didahulukan, jika tidak sesuai harapan maka sudah dipastikan kekecewaan yang akan didapatkan. Dan pada saat itu juga saya putuskan untuk tidak berekspektasi lagi dengan 'pujian' atau sekedar rasa senang pada suami ketika saya menghidangkan makanan. Bahkan sebelum itu, ketika saya tahu apa yang saya masak hanya akan menjadi bulan-bulanannya, saya tidak akan menyuguhkannya, justru saya akan menawarkan makanan lain yang ujung-ujungnya pasti minta dibuatkan mie instan.
Cukuplah lelah saya berakhir didalam rasa, namun perjuangan saya dalam menghidangkannya tidak boleh menyerah.
Alhamdulillah a'la kulli haal...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar