Oleh : Sri Pujiningsih
Instagram : @zhieureka
Bismillahirrohmanirrohim... Jika ini tulisan terakhirku...? Aku langsung teringat dengan sepenggal ayat di surat Al-Anbiya yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. Surah ini benar-benar mengingatkan kita bahwa siapapun akan berjumpa dengan kematiannya. Dan ia (kematian) tidak memandang siapapun dan dalam keadaan apapun. Bila sudah datang ketetapan Allah pada seseorang akan kematiannya, maka terpisahlah setiap ruh dengan jasadnya. Takkan ada yang bisa lari darinya meskipun berada di dalam benteng yang kuatnya tak terkira.
Sungguh aku tak sanggup membayangkan. Namun ini dapat menjadi renungan. Benar-benar mengingatkan akan dunia yang tak kekal. Bahwa setiap jiwa akan berjumpa dengan kematian. Lalu apakah yang sudah aku persiapkan? Bekal apa sajakah yang sudah aku kumpulkan? Itulah pertanyaanku yang sering berulang. Hidup di dunia memang sementara, dan disini hanya tempat kita singgah. Namun perjalanan belum usai, di akhiratlah tempat yang kekal. Dan sebelum semua itu usai, selagi masih ada kesempatan, aku takkan membuang waktuku dengan hal-hal yang tidak perlu. Saat inilah, waktu dan tempatku untuk terus berkarya dan maju. Aku sungguh ingin melakukan hal-hal yang berarti. Agar aku dapat mempertanggung-jawabkannya nanti setelah aku mati. Meski aku menyadari bahwa semua itu tidak mudah dilalui, namun aku bisa memilih jalanku sendiri. Cukuplah mereka yang sudah mendahului, menjadi pengingat kita bahwa kematian tidak memandang usia. Dan aku hanya harus bersegera, dalam mempersiapkan segalanya.
Aku pun teringat dengan apa yang sudah disampaikan oleh Rosulullah Sholallahu A’laihi Wassalaam dalam sebuah hadist yang berbunyi, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas”.
Sungguh beruntungnya orang yang paling cerdas itu, mereka bukan hanya mengingat hal yang menjadi pemutus kelezatan di dunia namun mereka juga telah mempersiapkannya.
Tentu saja, sekarang aku ingin menjadi bagian dari mereka. Belajar dan berjuang mulai saat ini dan sampai tiba waktunya mati. Karena aku sadar, masih banyak hal yang belum dilakukan dan masih sangat kurangnya bekal yang belum aku kumpulkan. Aku pun takut membayangkan bila akhirnya aku akan kehilangan. Tapi aku tersadar, bahwa ketakutan itu harus aku rubah menjadi hal yang menyenangkan meskipun yang aku hadapi adalah sebuah kematian. Lantas, bagaimana kematian bisa menjadi suatu hal yang membuat kita senang? Atau membuat kita bahagia? Sementara kita akan berpisah dengan orang tercinta? Laahaula walaa quwwata illaabillaah..
Sangat wajar dan normal bila berpisah dengan yang dicinta membuat kita sedih dan berduka. Dan tentu sangat wajar pula bukan? Bila berjumpa dengan yang dicinta akan membuat hati kita bahagia? Lalu apa yang menjadi parameter kita? Yang dicinta? Siapakah dia? Manusia? Atau Allah kah? Kini aku menyadari, apa yang seharusnya menjadi cita-cita terakhirku nanti. Betapa bahagia dan beruntungnya aku bila saat itu terjadi, Allah lah satu-satunya yang paling aku cintai dan yang paling aku rindukan untuk aku jumpai. Ya, saat ini yang aku bayangkan adalah ketika kematianku menjadi hal yang membahagiakan karena aku akan berjumpa dengan yang paling aku cintai dan yang paling aku rindukan, Allah yang maha kuasa.
Cukuplah itu menjadi tanda bahwa aku sudah siap untuk berjumpa dan sudah cukup bekal yang akan aku bawa. Sebuah bekal yang akan menjadi penolongku kelak di tempat yang kekal. Itulah yang menjadi harapan, amalan yang diterima, kebermanfaatan, ampunan serta rahmat dari Allah Azza Wa Jalla. Sehingga tercapailah perpisahan dan perjumpaan yang bahagia, sebuah akhir yang husnul khotimah, Insya Allah. Inilah cita-cita terakhirku, kematian yang aku dambakan. Semoga saat itu tiba, diri ini sudah siap dengan persiapan yang ku rajut dari sekarang. Persiapan yang benar-benar sudah matang, yang aku pilih dan aku perjuangkan demi akhir yang membahagiakan. Kematian yang dirindukan setiap insan, husnul khotimah.
“Tidak ada kisah yang paling berkesan dan mengharukan, selain kisahnya seseorang ketika berjumpa dengan kematiannya. Ia ditangisi penduduk bumi dan dirindukan penduduk langit”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar