Jumat, 21 Januari 2022

Bersyukurlah, Berbagilah, Berbahagialah

Oleh : Sri Pujiningsih

Instagram : @zhieureka


Bahagia itu letaknya di dalam hati bukan apa yang dimiliki. Bahagia itu diciptakan, bukan menunggu ada surprise yang datang apalagi Kang Siomay ngasih gratisan. Loh kok jadi lapar? Hehe canda ya Kang Siomay. Ya seneng juga sih kalau tiba-tiba beli siomay tapi gak minta dibayar. Hihihi tim pemburu diskon dan gratisan banget saya nih. Ada yang satu tim? Ups!

Oke, kita back to the topic tapi lebih dari itu. Kebahagiaan ada yang sifatnya sementara atau semu dan ada yang sifatnya abadi atau hakiki. Tinggal kitanya mau pilih yang mana dan mau berjalan kemana.

Dari pengalaman dan lingkungan kita bisa belajar. Entah itu pengalaman sendiri atau orang lain. Bahwa ada banyak orang yang terlihat bahagia seperti bergelimangnya harta, istri yang cantik jelita, suami tampan bak artis korea, anak-anak sehat nan jenaka, jabatan tinggi tak terkira atau lain sebagainya. Namun ternyata hatinya tidak bahagia. Disisi lain, ada juga orang-orang yang hidupnya sederhana, makan seketemunya, pasangan yang biasa-biasa saja misalnya, namun ternyata mereka bisa berbahagia. Lantas, apa dan bagaimana sih bahagia itu? Sementara kita semua berhak memilikinya. Baik orang yang berkulit putih, hitam atau cokelat, bergelimang harta atau tidak, pedagang atau pembeli, dewasa atau anak-anak. Kita semua harus bahagia. Tapi bagaimana kita mengusahakan serta meraih kebahagiaan itu? Terutama kebahagiaan yang hakiki dan abadi.

Saya setuju bila kita misalnya memiliki banyak harta, sangat mungkin untuk kita bisa dengan mudah mendapatkan apa yang kita inginkan. Atau sebaliknya, bila kita kurang dari sisi harta atau secara ekonomi sulit, bagaimanalah mungkin kita bisa bahagia? Wong mau makan buat hari ini saja kadang bingung dapat darimana? Ya Robb.. Ampunilah kami. Bahwa semua sudah dapat perannya masing-masing. Si kaya dan si kurangnya harta tidak dapat bertukar tempat. Kecuali dengan mengusahaknnya. Ya, kita hanya perlu berusaha lebih keras untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik. Meskipun begitu, hak prerogatif ada di tangan Allah ta’ala. Ada hal dimana kita terkadang tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan meskipun kita berusaha keras untuk memilikinya. Artinya kita perlu berikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah ta’ala termasuk pula dengan hal untuk mencapai kebahagiaan ini. Sangat patutlah kita bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Karena bahagia itu tidak bergantung pada atribut yang kita pakai. Memang betul, kebahagiaan itu sangat berkaitan erat dengan adanya berbagai kenikmatan, keindahan serta kesenangan. Akan tetapi kenikmatan, keindahan, serta kesenangan itu tidak dapat dirasakan sebelum kita mengenal lelahnya suatu perjuangan, kesabaran dan pengorbanan dalam sebuah proses pencapaian. Alhamdulillah, konsep bahagia yang sederhana ternyata ada di dalam rasa syukur serta terletak pada ketentraman di dalam hati.

“..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasati azab-Ku sangat berat”. (Qs. Ibrohim : 7)

Bersyukurlah sebanyak-banyaknya, bagaimanapun beratnya keadaan yang sedang kita alami. Ucapkanlah, alhamdulilah a’la kulli haal. Pujilah Allah selalu dalam keadaan apapun, agar Ia anugerahkan rasa lapang di hati, rasa qona’ah pada diri sehingga berbahagilah jiwa ini. Alhamdulillahilladzi binimatihi tatimmush sholihat, pujilah Allah atas segala nikmat dan karunia yang banyak. Semoga Allah ta’ala anugerahkan kepada kita keinginan untuk berbagi karena ada hak yang harus diberi, serta akan semakin menambah nikmat dan kebahagiaan yang hakiki.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Qs. Taha : 124)

Naudzubillahimindzaalik, bila pada kenyataannya ada hak orang lain yang kita abaikan, mendzolimi diri sendiri terlebih merugikan orang lain, demi mengejar suatu kebahagiaan namun tidak sesuai dengan apa yang telah Allah ta’ala peringatkan. Mengejar kebahagiaan semu yang sejatinya merusak jiwa dan masa depan.

Semoga Allah ta’ala senantiasa membimbing kita untuk menemukan jalan kebahagiaan itu, kebahagiaan untuk bekal pulang ke negeri akhirat yang kekal. Semoga Allah ta’ala juga meneguhkan langkah dan hati kita untuk selalu berjalan di koridor yang benar demi mendapatkan ridho-Nya.

“Dan keridhoaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar”. (Qs. At-Taubat : 72)


Tidak ada komentar: