Oleh : Sri Pujiningsih
Instagram : @zhieureka
Bahagia
itu letaknya di dalam hati bukan apa yang dimiliki. Bahagia itu diciptakan,
bukan menunggu ada surprise yang datang apalagi Kang Siomay ngasih
gratisan. Loh kok jadi lapar? Hehe canda ya Kang Siomay. Ya seneng juga sih
kalau tiba-tiba beli siomay tapi gak minta dibayar. Hihihi tim pemburu diskon
dan gratisan banget saya nih. Ada yang satu tim? Ups!
Oke,
kita back to the topic tapi lebih dari itu. Kebahagiaan ada yang
sifatnya sementara atau semu dan ada yang sifatnya abadi atau hakiki. Tinggal
kitanya mau pilih yang mana dan mau berjalan kemana.
Dari
pengalaman dan lingkungan kita bisa belajar. Entah itu pengalaman sendiri atau
orang lain. Bahwa ada banyak orang yang terlihat bahagia seperti bergelimangnya
harta, istri yang cantik jelita, suami tampan bak artis korea, anak-anak sehat
nan jenaka, jabatan tinggi tak terkira atau lain sebagainya. Namun ternyata hatinya
tidak bahagia. Disisi lain, ada juga orang-orang yang hidupnya sederhana, makan
seketemunya, pasangan yang biasa-biasa saja misalnya, namun ternyata mereka
bisa berbahagia. Lantas, apa dan bagaimana sih bahagia itu? Sementara kita
semua berhak memilikinya. Baik orang yang berkulit putih, hitam atau cokelat,
bergelimang harta atau tidak, pedagang atau pembeli, dewasa atau anak-anak.
Kita semua harus bahagia. Tapi bagaimana kita mengusahakan serta meraih
kebahagiaan itu? Terutama kebahagiaan yang hakiki dan abadi.
Saya
setuju bila kita misalnya memiliki banyak harta, sangat mungkin untuk kita bisa
dengan mudah mendapatkan apa yang kita inginkan. Atau sebaliknya, bila kita
kurang dari sisi harta atau secara ekonomi sulit, bagaimanalah mungkin kita
bisa bahagia? Wong mau makan buat hari ini saja kadang bingung dapat darimana?
Ya Robb.. Ampunilah kami. Bahwa semua sudah dapat perannya masing-masing. Si
kaya dan si kurangnya harta tidak dapat bertukar tempat. Kecuali dengan
mengusahaknnya. Ya, kita hanya perlu berusaha lebih keras untuk mengubah diri
kita menjadi lebih baik. Meskipun begitu, hak prerogatif ada di tangan Allah
ta’ala. Ada hal dimana kita terkadang tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan
meskipun kita berusaha keras untuk memilikinya. Artinya kita perlu berikhtiar
dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah ta’ala termasuk pula dengan hal untuk
mencapai kebahagiaan ini. Sangat patutlah kita bersungguh-sungguh untuk
meraihnya. Karena bahagia itu tidak bergantung pada atribut yang kita pakai. Memang
betul, kebahagiaan itu sangat berkaitan erat dengan adanya berbagai kenikmatan,
keindahan serta kesenangan. Akan tetapi kenikmatan, keindahan, serta kesenangan
itu tidak dapat dirasakan sebelum kita mengenal lelahnya suatu perjuangan,
kesabaran dan pengorbanan dalam sebuah proses pencapaian. Alhamdulillah, konsep
bahagia yang sederhana ternyata ada di dalam rasa syukur serta terletak pada ketentraman
di dalam hati.
“..Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasati azab-Ku sangat berat”. (Qs. Ibrohim :
7)
Bersyukurlah
sebanyak-banyaknya, bagaimanapun beratnya keadaan yang sedang kita alami.
Ucapkanlah, alhamdulilah a’la kulli haal. Pujilah Allah selalu dalam keadaan apapun,
agar Ia anugerahkan rasa lapang di hati, rasa qona’ah pada diri sehingga berbahagilah
jiwa ini. Alhamdulillahilladzi binimatihi tatimmush sholihat,
pujilah Allah atas segala nikmat dan karunia yang banyak. Semoga Allah ta’ala
anugerahkan kepada kita keinginan untuk berbagi karena ada hak yang harus
diberi, serta akan semakin menambah nikmat dan kebahagiaan yang hakiki.
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka
sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada
hari kiamat dalam keadaan buta”. (Qs. Taha : 124)
Naudzubillahimindzaalik, bila pada kenyataannya ada hak orang
lain yang kita abaikan, mendzolimi diri sendiri terlebih merugikan orang lain,
demi mengejar suatu kebahagiaan namun tidak sesuai dengan apa yang telah Allah
ta’ala peringatkan. Mengejar kebahagiaan semu yang sejatinya merusak jiwa dan
masa depan.
Semoga Allah ta’ala senantiasa membimbing kita untuk
menemukan jalan kebahagiaan itu, kebahagiaan untuk bekal pulang ke negeri
akhirat yang kekal. Semoga Allah ta’ala juga meneguhkan langkah dan hati kita untuk selalu
berjalan di koridor yang benar demi mendapatkan ridho-Nya.
“Dan
keridhoaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar”. (Qs.
At-Taubat : 72)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar