Senin, 14 Februari 2022

Cerita VBAC-Ku Bagian 2

Lanjutan cerita bagian 1...

Ehm, sampai mana ya? :D

Ya, proses perjuangan yang bisa dibilang telat untuk suatu usaha yang bisa dibilang mempertaruhkan nyawa. Tapi saya selalu meyakinkan diri, bahwa apa yang saya pilih ini bukan untuk 'membunuh diri' apalagi mengorbankan buah hati kami. Tidak! Dari berproses ini saya banyak belajar untuk berilmu sebelum berperang, berdaya, berjuang, bersabar dan bertawakal. Saya belajar dari mereka yang sudah paham sampai mereka yang sudah lebih dulu berpengalaman. Mereka bilang 'knowledge is power'. Maka saya pelajari apa yang dapat mensukseskan proses vbac ini. Mulai dari perbaikan nutrisi, menjadi bumil yang tetap aktif, hypnobirthing, yoga, sampai latihan bernafas pun saya kunyah semua. 

Pada mereka yang pengalaman, tentu saya pun banyak belajar. Ini menjadi salah satu faktor yang membuat saya semakin termotivasi dan yakin dengan pilihan ini. Kalau mereka saja yang memiliki banyak ketidakmungkinan bisa serta menghasilkan keberhasilan, tentu biidznillah saya pun pasti bisa. Begitulah yang menancap di dada saya. Pengalaman dan sharing mereka pun membuat saya semakin teredukasi dengan kondisi-kondisi tak terduga yang mungkin akan dihadapi. Seperti asupan dan nutrisi yang mereka konsumsi, nakes serta rumah sakit yang mendukung vbac, kontrol kondisi bumil baik secara medis maupun psikis, dan banyak lagi yang lainnya. 

Dari banyaknya sharing itu, saya pun mimiliki tantangan sendiri. Misalnya saat ditanya oleh nakes akan cessar di rumah sakit mana? Yang spontan dan pede nya saya jawab akan lahir normal saja. Tentunya yang saya dapatkan bukan dukungan dan do'a akan tetapi nyinyiran serta petuah yang menjatuhkan. Lalu hb rendah pada tri semester ketiga, ditambah lagi kepala bayi yang muter keatas ketika masuk usia kehamilan sekitar 35 minggu. Mata minus saya juga selalu disebut-sebut dapat menghalangi proses kelahiran normal, yang mengharuskan saya untuk cek ketipisan retina pada spesialis dokter mata. Itu semua saya lakukan demi kelancaran yang saya dambakan. 

Saya masih ingat ketika memasuki usia sekitar 30 minggu, yang qodarullah hb saya kurang dari normal. Lalu di usia sekitar 35 minggu yang qodarullah posisi janin berada diatas. Maka dari situ saya belajar untuk memaksimalkan ikhtiar semampu saya dan memasrahkan hasilnya kepada Allah ta'ala saja. Belum lagi ketika menjelang persalinan.

Tidak ada komentar: