Entahlah, kata yang seolah mewakili kondisi dan suasana yang sedang kualami saat ini yang mungkin juga dirasakan oleh emak-emak lainnya di luar sana. Sejak Corona hadir di Indonesia dan menjadi pandemi di seluruh dunia, siapapun menjadi resah dan gelisah. Bahkan lebih dari itu, banyak yang terkena dan merasakan dampaknya. Mulai dari kebiasaan, pola hidup sampai pada perekonomian pun mengalami perubahan yang luar biasa cepat dan begitu drastisnya. Dua tahun sudah kita dipaksa untuk beradaptasi dengan semua perubahan ini. Meski segala upaya telah dilakukan untuk memperbaiki keadaan, nyatanya memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Baru saja kasus Corona melandai, saat ini kita kembali dihadapkan dengan melonjaknya kasus Corona Varian Baru yang disebut Omicron.
Apakah saya kembali cemas? Tentu saja! Meski ini bukan pertama kalinya dan tak secemas sebelumnya. Lantas saya bisa berbuat apa, dan apa yang akan saya lakukan? Sayangnya tidak ada selain mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Karena bagaimanapun, pemerintah memiliki tanggung jawab penuh terhadap keamanan dan keselamatan rakyatnya. Ikut vaksin sudah, memakai masker, menjaga jarak, membiasakan mencuci tangan atau lebih baik diam diri di rumah saja. Semua itu tidak boleh diabaikan demi memutus kembali rantai penyebaran virus ini.
Apa yang paling saya cemaskan? Anak-anak tentunya, keluarga tersayang dan kerabat. Dan yang menjadi perhatian utama yaitu si Kaka H, anak sulung saya. Qodarullah, Kaka ada asma dan akhir-akhir ini sering sekali kambuhnya. Bahkan dua bulan yang lalu, Kaka didiagnosis brochopneumonia. Entah sudah berapa butir dan botol obat yang sudah dikonsumsinya. Maka rasa sedih dan cemas pada keadaanya menjadi hal yang biasa terjadi. Tidak adanya wabah ini saja sudah cukup membuat saya khawatir, ditambah lagi dengan kondisi saat ini. Saat dimana lingkungan dan udara sudah di rasa kurang bersahabat dengannya. Meski aktivitasnya diluar rumah sudah mulai dibatasi, seperti sekolah yang kembali diharusnya belajar di rumah lagi. Dan justru menambah dilema tersendiri untuk saya sebagai seorang ibu.
Banyak hal yang terjadi, namun semua ini harus dilalui. Dalam situasi seperti ini, kita perlu berlatih untuk tetap tenang meskipun datang kecemasan serta bersabar dalam setiap keadaan. Rasa takut atau cemas itu wajar selama tidak berlebihan. Dan saya diingatkan kembali untuk selalu memaksimalkan ikhtiar dan bertawakkal. Alhamdulillah a'la kulli haal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar