Oleh : Sri Pujiningsih
Instagram : @zhieureka
Sudah
menjadi hal yang lumrah bahwa setiap kehidupan akan selalu ada yang namanya
godaan, rintangan, hambatan atau apapun itu yang membuat seketika langkah akan
terhenti atau hati yang tiba-tiba goyah pada cita-cita yang sedang dititi.
Bukan tanpa sebab, hal yang tidak disangka-sangka itu ada. Meskipun yang
diminta kelancaran serta kemudahan dalam segala hal apapun. Sebut saja ia
dengan nama tantangan. Adanya tantangan merangsang kita untuk berjuang. Bukan
menjadi pecundang. Ya, setidaknya tantangan membuat kita pernah menjadi
pejuang. Dan menjadi pejuang tidak harus menjadi pahlawan. Akan tetapi dengan
menjadi pejuang kita akan memiliki kesempatan untuk bisa menjadi seorang
pemenang.
Seketika
ku teringat kisah perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anak-anaknya.
Dahsyatnya perjuangan mereka bahkan dimulai dari awal kandungan. Bahkan belum
berhenti sampai yang dikandungnya telah lahir ke dunia ini. Tantangan demi
tantangan mereka hadapi dari hari ke hari. Perjuangan yang layak diberikan
sebuah penghargaan akan tetapi yang mereka butuhkan hanyalah sebuah dukungan.
Dukungan penuh nan tulus akan mampu mengalahkan asa yang hampir pupus.
Akhirnya
aku pun berada di fase perjuangan itu. Masa-masa begitu berat dan melelahkan
dalam memperjuangkan sebuah harapan. Harapan yang akan menjadi kebahagiaan
kelak untukku sebagai seorang ibu dan keluarga di dunia serta akhirat. Sungguh momen
yang tak akan pernah terlupakan sepanjang hayatku. Banyak terselip nikmat dan
pelajaran yang Allah ta’ala anugerahkan pada seorang ibu. Pengalaman persalinan
anak pertama yang qodarullah harus dilakukan secara cessar. Sungguh
bukan persalinan yang ku idamkan sehingga tinggallah jejak luka dan trauma.
Sejak saat itu, aku pun bertekad agar kelak persalinan anak keduaku berjalan
sesuai dengan apa yang aku harapkan. Kelahiran secara spontan. Meski benakku
begitu kalut, jalanku begitu kusut membayangkan bagaimana harapan itu dapat
terwujud. Namun, tekadku tak akan surut.
Ku
kalahkan rasa takut dan trauma yang pernah ada. Sehingga tekadku memuncak naik
dan semakin naik, bukan hanya 100 persen tapi sampai 1000 persen. Sekuat itu
harus ku perjuangkan semuanya. Dari mulai pikiran, hati sampai seluruh sel yang
tersambung dengan diri ini. Ku lewati dan ku nikmati semua proses itu. Meski
tantangan tak jua bosan hadir menggoyahkan tekad serta langkah ini. Satu
persatu ia hadir menyapaku di setiap tantangan yang berhasil aku taklukan itu. Mulai
dari dukungan orang sekitar, pengetahuan akan persalinan yang spontan, sampai nakes
yang akan membantuku dalam perjuangan hidup dan matiku. Ah, bila kuingat lagi
perjuangan itu yang bukan hanya mengorbankan pikiran serta tenaga tapi juga
banyak menitikan air mata.
Sampai
titik dimana aku tahu apa yang aku dan yang dikandunganku butuhkan. Aku terus
mencari, meyakinkan serta mendo’akan lingkungan yang akan bisa memberikan
dukungan. Adanya suara sumbang diluaran akan keraguan pada persalinan spontan
setelah cessar. Bagaimana mungkin? Rumah bersalin mana yang bisa ku
datangi dan siapa nakes yang akan membantuku nanti? Sudahlah, aku pun
tidak akan membunuh diri dan janinku ini, jawabku pada tekad ini. Keputusasaan
sering menghampiri dalam setiap pencarian apa yang kubutuhkan itu. Bahkan
pertengkaran dengan orang terdekat sering terjadi memambah asa di hati. Meskipun
diwaktu hitungan jam menanti kedatangan sang buah hati.
Suamiku
sudah begitu gelisah dan memintaku untuk menjalankan untuk operasi cessar
saja. Untuk pertama kalinya aku menemui seorang dokter obgyn di suatu
rumah sakit tempatku melahirkan anak pertamaku. Dokter itu pun mengarahkanku
untuk segera melakukan persalinan secara cessar. Saat itu aku sedang
mengalami kontraksi pembukaan 2, yang sudah kulalui selama dua hari. Posisi
janinku aman, namun ada lilitan entah dibagian mana. Ia menatap mataku dan
bertanya apa yang aku inginkan. Alhamdulillahilladzi
bi nimatihi tatimmush sholihat, sang dokter memberiku kesempatan.
Harapanku Allah kabulkan. Meskipun lagi-lagi suamiku sempat meragukan.
Disitulah
aku meyakinkan, bahwa ini bukan tentang harapan ataupun keberanian semata tapi
ini tentang keimanan seseorang pada keyakinan serta pertolongan Rabb-nya pada
tiap bait-bait doanya. Sungguh Allah ta’ala maha baik, sebaik-baiknya penolong
dan sebaik-baiknya tempat menaruh harap dan bergantung. Butuh dukungan dan
bantuan pada manusia itu pasti ada, tapi janganlah harapkan dan gantungkan bantuan
dari mereka. Berharap dan bergantunglah hanya pada Allah ta’ala saja. Sungguh
pelajaran dan nikmat yang luar biasa, setiap kita bisa berproses serta tumbuh
dengan adanya tantangan yang menyapa. Inilah fase metamorfosisnya manusia.
”Mungkin
akan selalu ada pengorbanan dalam setiap tantangan, namun akan selalu ada pula
jalan serta kemudahan ketika kita bersungguh-sungguh mengusahakan dan meminta
pada Allah yang maha berkuasa. Yakinlah dan bertawakallah selalu pada-Nya.
Allah Azza wa Jalla. Berjuanglah! Hidup ini terlalu berharga untuk menjadi
sia-sia”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar