Sabtu, 22 Januari 2022

Aku Pejuang, Aku Pemenang

Oleh : Sri Pujiningsih

Instagram : @zhieureka


Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa setiap kehidupan akan selalu ada yang namanya godaan, rintangan, hambatan atau apapun itu yang membuat seketika langkah akan terhenti atau hati yang tiba-tiba goyah pada cita-cita yang sedang dititi. Bukan tanpa sebab, hal yang tidak disangka-sangka itu ada. Meskipun yang diminta kelancaran serta kemudahan dalam segala hal apapun. Sebut saja ia dengan nama tantangan. Adanya tantangan merangsang kita untuk berjuang. Bukan menjadi pecundang. Ya, setidaknya tantangan membuat kita pernah menjadi pejuang. Dan menjadi pejuang tidak harus menjadi pahlawan. Akan tetapi dengan menjadi pejuang kita akan memiliki kesempatan untuk bisa menjadi seorang pemenang.

Seketika ku teringat kisah perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anak-anaknya. Dahsyatnya perjuangan mereka bahkan dimulai dari awal kandungan. Bahkan belum berhenti sampai yang dikandungnya telah lahir ke dunia ini. Tantangan demi tantangan mereka hadapi dari hari ke hari. Perjuangan yang layak diberikan sebuah penghargaan akan tetapi yang mereka butuhkan hanyalah sebuah dukungan. Dukungan penuh nan tulus akan mampu mengalahkan asa yang hampir pupus.

Akhirnya aku pun berada di fase perjuangan itu. Masa-masa begitu berat dan melelahkan dalam memperjuangkan sebuah harapan. Harapan yang akan menjadi kebahagiaan kelak untukku sebagai seorang ibu dan keluarga di dunia serta akhirat. Sungguh momen yang tak akan pernah terlupakan sepanjang hayatku. Banyak terselip nikmat dan pelajaran yang Allah ta’ala anugerahkan pada seorang ibu. Pengalaman persalinan anak pertama yang qodarullah harus dilakukan secara cessar. Sungguh bukan persalinan yang ku idamkan sehingga tinggallah jejak luka dan trauma. Sejak saat itu, aku pun bertekad agar kelak persalinan anak keduaku berjalan sesuai dengan apa yang aku harapkan. Kelahiran secara spontan. Meski benakku begitu kalut, jalanku begitu kusut membayangkan bagaimana harapan itu dapat terwujud. Namun, tekadku tak akan surut.

Ku kalahkan rasa takut dan trauma yang pernah ada. Sehingga tekadku memuncak naik dan semakin naik, bukan hanya 100 persen tapi sampai 1000 persen. Sekuat itu harus ku perjuangkan semuanya. Dari mulai pikiran, hati sampai seluruh sel yang tersambung dengan diri ini. Ku lewati dan ku nikmati semua proses itu. Meski tantangan tak jua bosan hadir menggoyahkan tekad serta langkah ini. Satu persatu ia hadir menyapaku di setiap tantangan yang berhasil aku taklukan itu. Mulai dari dukungan orang sekitar, pengetahuan akan persalinan yang spontan, sampai nakes yang akan membantuku dalam perjuangan hidup dan matiku. Ah, bila kuingat lagi perjuangan itu yang bukan hanya mengorbankan pikiran serta tenaga tapi juga banyak menitikan air mata.

Sampai titik dimana aku tahu apa yang aku dan yang dikandunganku butuhkan. Aku terus mencari, meyakinkan serta mendo’akan lingkungan yang akan bisa memberikan dukungan. Adanya suara sumbang diluaran akan keraguan pada persalinan spontan setelah cessar. Bagaimana mungkin? Rumah bersalin mana yang bisa ku datangi dan siapa nakes yang akan membantuku nanti? Sudahlah, aku pun tidak akan membunuh diri dan janinku ini, jawabku pada tekad ini. Keputusasaan sering menghampiri dalam setiap pencarian apa yang kubutuhkan itu. Bahkan pertengkaran dengan orang terdekat sering terjadi memambah asa di hati. Meskipun diwaktu hitungan jam menanti kedatangan sang buah hati.

Suamiku sudah begitu gelisah dan memintaku untuk menjalankan untuk operasi cessar saja. Untuk pertama kalinya aku menemui seorang dokter obgyn di suatu rumah sakit tempatku melahirkan anak pertamaku. Dokter itu pun mengarahkanku untuk segera melakukan persalinan secara cessar. Saat itu aku sedang mengalami kontraksi pembukaan 2, yang sudah kulalui selama dua hari. Posisi janinku aman, namun ada lilitan entah dibagian mana. Ia menatap mataku dan bertanya apa yang aku inginkan. Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat, sang dokter memberiku kesempatan. Harapanku Allah kabulkan. Meskipun lagi-lagi suamiku sempat meragukan.

Disitulah aku meyakinkan, bahwa ini bukan tentang harapan ataupun keberanian semata tapi ini tentang keimanan seseorang pada keyakinan serta pertolongan Rabb-nya pada tiap bait-bait doanya. Sungguh Allah ta’ala maha baik, sebaik-baiknya penolong dan sebaik-baiknya tempat menaruh harap dan bergantung. Butuh dukungan dan bantuan pada manusia itu pasti ada, tapi janganlah harapkan dan gantungkan bantuan dari mereka. Berharap dan bergantunglah hanya pada Allah ta’ala saja. Sungguh pelajaran dan nikmat yang luar biasa, setiap kita bisa berproses serta tumbuh dengan adanya tantangan yang menyapa. Inilah fase metamorfosisnya manusia.

Mungkin akan selalu ada pengorbanan dalam setiap tantangan, namun akan selalu ada pula jalan serta kemudahan ketika kita bersungguh-sungguh mengusahakan dan meminta pada Allah yang maha berkuasa. Yakinlah dan bertawakallah selalu pada-Nya. Allah Azza wa Jalla. Berjuanglah! Hidup ini terlalu berharga untuk menjadi sia-sia”.

Tidak ada komentar: